Haris Firdaus
http://www.suaramerdeka.com/
PERKEMBANGAN teknologi komunikasi, terutama komunikasi visual, selalu diiringi dengan pertumbuhan pornografi. Sejarah membuktikan, pornografi merupakan salah satu risiko paling purba dari teknologi. Namun, catatan historis juga menunjukkan bahwa industri porno memiliki andil sebagai pendorong pertumbuhan teknologi visual baru. Teknologi dan pornografi, oleh karenanya, bertalian secara amat erat.
Penemuan kamera film pertama pada 1890, misalnya, segera disusul dengan pembuatan rekaman video porno. Tidak lama setelah penemuan itu, kamera film langsung dipakai merekam perempuan-perempuan telanjang dalam berbagai pose.
Media Lamongan
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Kamis, Mei 24, 2012
Senin, Mei 21, 2012
Petanda Kata Pentas Sastra 2012 Dari PP Al Anwar Paculgowang
Santri Primitif Telah Mati
Anjrah Lelono Broto *)
http://www.kompasiana.com/anjrah_lelono_broto
Memang tak sesakti yang dibuat pujangga asli / Mohon dimaklumi / Sekaligus dinikmati / Baris kata yang tak tahu diri / Yang digubah di warung kopi // Mereka yang terlupa masa lalu / Dan tak peduli masa depan / Mereka yang mengadu nasib dengan sebatang rokok / Dan secangkir kopi / Mereka yang mencurahkan perasaan di ujung / Pena dan secarik kertas / Mereka yang berkelana di antara maya dan nyata // Sang pujangga pinggiran // Aku tak pandai berkarya / Aku tak terlalu mengarti tentang sastra / Namun hari ini / Ku beranikan diri / Untuk memanggungkannya // Di antara para pujangga //
Anjrah Lelono Broto *)
http://www.kompasiana.com/anjrah_lelono_broto
Memang tak sesakti yang dibuat pujangga asli / Mohon dimaklumi / Sekaligus dinikmati / Baris kata yang tak tahu diri / Yang digubah di warung kopi // Mereka yang terlupa masa lalu / Dan tak peduli masa depan / Mereka yang mengadu nasib dengan sebatang rokok / Dan secangkir kopi / Mereka yang mencurahkan perasaan di ujung / Pena dan secarik kertas / Mereka yang berkelana di antara maya dan nyata // Sang pujangga pinggiran // Aku tak pandai berkarya / Aku tak terlalu mengarti tentang sastra / Namun hari ini / Ku beranikan diri / Untuk memanggungkannya // Di antara para pujangga //
Label:
Anjrah Lelono Broto,
Esai,
Media Lamongan
Senin, Mei 14, 2012
Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia
Abdurrahman Wahid
Kompas, 26 November 1973
Sebagai objek sastra, pesantren boleh dikata belum memperoleh perhatian dari para sastrawan kita, padahal banyak di antara mereka yang telah mengenyam kehidupan pesantren. Hanya Djamil Suherman yang pernah melakukan penggarapan di bidang ini, dalam serangkaian cerita pendek di tahun-tahun lima puluhan dan enam puluhan. Juga Mohammad Radjab, sedikit banyak telah menggambarkan tradisi hidup bersurau di kampung, dalam otobiografinya yang berjudul Semasa Kecil di Kampung. Walaupun demikian, karya dua orang penulis itu belum lagi dapat dikatakan berhasil mengungkapkan hidup kejiwaan di pesantren. Paling banyak karya mereka baru memantulkan nostalgia akan masa bahagia yang mereka alami semasa kecil dalam lingkungan pesantren.
Kompas, 26 November 1973
Sebagai objek sastra, pesantren boleh dikata belum memperoleh perhatian dari para sastrawan kita, padahal banyak di antara mereka yang telah mengenyam kehidupan pesantren. Hanya Djamil Suherman yang pernah melakukan penggarapan di bidang ini, dalam serangkaian cerita pendek di tahun-tahun lima puluhan dan enam puluhan. Juga Mohammad Radjab, sedikit banyak telah menggambarkan tradisi hidup bersurau di kampung, dalam otobiografinya yang berjudul Semasa Kecil di Kampung. Walaupun demikian, karya dua orang penulis itu belum lagi dapat dikatakan berhasil mengungkapkan hidup kejiwaan di pesantren. Paling banyak karya mereka baru memantulkan nostalgia akan masa bahagia yang mereka alami semasa kecil dalam lingkungan pesantren.
Cerita Unik dari ”Negeri Terong”
Judul : The Terong Gosong; Ketawa Secara Serius
Penulis : Yahya C. Staquf
Penerbit : Mata Air Publishing
Cetakan : I, Juli 2011
Tebal : xx + 156 hal
Harga : Rp. 30.000,00
ISBN : 978-979-18405-4-5
Peresensi : Fathurrahman Karyadi *
__Majalah Terbuireng edisi XIV Jan-Feb 2012
Penulis : Yahya C. Staquf
Penerbit : Mata Air Publishing
Cetakan : I, Juli 2011
Tebal : xx + 156 hal
Harga : Rp. 30.000,00
ISBN : 978-979-18405-4-5
Peresensi : Fathurrahman Karyadi *
__Majalah Terbuireng edisi XIV Jan-Feb 2012
Label:
Fathurrahman Karyadi,
Media Lamongan,
Resensi
Si Lembut yang Melahirkan Gerakan Islam Kultural
Hartono Harimurti
http://www.suaramerdeka.com/
SUARA memang memengaruhi keterpilihan seseorang menjadi presiden. Tentunya pikiran kita langsung tertuju pada jumlah suara. Namun untuk Presiden AS yang termuda, John F Kennedy, ”suara enak”-lah yang lebih menentukan. Itu yang dikatakan Nurcholish Madjid saat bersilaturahmi dengan jajaran Redaksi Suara Merdeka di Kaligawe beberapa waktu lalu.
http://www.suaramerdeka.com/
SUARA memang memengaruhi keterpilihan seseorang menjadi presiden. Tentunya pikiran kita langsung tertuju pada jumlah suara. Namun untuk Presiden AS yang termuda, John F Kennedy, ”suara enak”-lah yang lebih menentukan. Itu yang dikatakan Nurcholish Madjid saat bersilaturahmi dengan jajaran Redaksi Suara Merdeka di Kaligawe beberapa waktu lalu.
Langganan:
Entri (Atom)